Sabtu, 05 Oktober 2013

Sumber-sumber Injil

Kesan  umum  tentang  Injil  yang  kita  dapatkan  dari
penyelidikan   kritis   terhadap   teks   adalah  bahwa
Injil-lnjil "merupakan literatur yang  kurang  sempurna
penyusunannya,"  "yang  tidak  menunjukkan kontinuitas"
dan "yang menunjukkan kontradiksi-kontradiksi yang  tak
dapat  diatasi."  Penilaian  tersebut  kita pinjam dari
Terjemahan Ekumenik terhadap  Bibel,  suatu  buku  yang
penting  sekali  untuk  kita  jadikan  referensi,  oleh
karena penilaian soal ini mempunyai akibat yang  gawat.
Kita  telah  membaca  dalam bagian lain catatan-catatan
mengenai  sejarah  kontemporer  tentang  agama,   bahwa
kelahiran   Injil-Injil   dapat  menerangkan  ciri-ciri
literatur yang  membingungkan  ini  bagi  pembaca  yang
menggunakan pikirannya.
 
Akan  tetapi  kita  perlu  menyelidiki  lebih  jauh dan
mencari    yang    dapat    kita    peroleh    daripada
karangan-karangan  yang  diterbitkan pada zaman modern
ini mengenai  sumber-sumber  yang  memberi  bahan-bahan
kepada  pengarang  Injil  untuk  menyusun  teks mereka;
adalah menarik juga untuk  menyelidiki  apakah  sejarah
teks-teks  Injil  setelah  dibukukan  dapat menerangkan
aspek-aspek Injil yang sekarang kita baca.
 
Persoalan sumber ini telah dibicarakan secara sederhana
sekali   pada   zaman   Pendeta-pendeta  Gereja  (zaman
Pertengahan). Pada  abad-abad  pertama  Masehi,  sumber
Injil   adalah   Injil   yang   pertama  tersusun  dari
manuskrip-manuskrip komplit, yakni Injil  Matius.  Soal
sumber  hanya  mengenai  Injil  Lukas dan Markus. Injil
Lukas merupakan kasus yang berdiri  sendiri.  Agustinus
menganggap  bahwa  Markus, yaitu nomor dua dalam urutan
Injil tradisional, mendapat inspirasi dari Injil Matius
yang  ia  ringkaskan,  dan  bahwa  Lukas yang merupakan
pengarang   Injil   ketiga   dalam   manuskrip    telah
mempergunakan  Injil  Markus  dan  Matius.  Pendahuluan
Injil Lukas memberi kesan semacam itu.
 
Para ahli  tafsir  Injil  pada  waktu  itu  dapat  juga
memberikan  gambaran  tentang  persamaan  (convergensi)
teks-teks dan menemukan ayat-ayat yang sama  dalam  dua
atau  tiga  Injil Sinoptik. Para ahli tafsir Terjemahan
Ekumenik daripada Bibel memberikan angka-angka  sebagai
berikut:
 
Ayat-ayat sama dalam tiga Injil Sinoptik adalah 330
Ayat-ayat sama dalam Injil Markus dan Matius adalah 178
Ayat-ayat sama dalam Injil Markus dan Lukas adalah 100
Ayat-ayat sama dalam Injil Matius dan Lukas adalah 230
 
dan ayat-ayat  yang  khusus  bagi  tiap-tiap  pengarang
Injil  adalah:  330  ayat untuk Matius, 53 untuk Markus
dan 500 untuk Lukas.
 
Dari zaman para  pendeta-pendeta  Gereja  sampai  akhir
abad  ke  XVIII,  1500  tahun  telah  lewat dan tak ada
masalah baru mengenai  sumber-sumber  pengarang  Injil;
orang  hanya mengikuti tradisi. Hanya pada zaman modern
inilah  orang  mengerti  bahwa  tiap  pengarang  Injil,
walaupun  mengambil  informasi  yang ada pada pengarang
lain, ia menyusun suatu riwayat menurut  seleranya  dan
pandangan  pribadinya.  Oleh  karena,  itu  orang mulai
memperhatikan kumpulan  bahan-bahan  hikayat,  di  satu
pihak  dalam  tradisi lisan kelompok-kelompok asli, dan
di lain pihak dalam sumber umum  dalam  bahasa  Aramaik
yang  mestinya  ada,  akan tetapi sampai sekarang belum
ditemukan  orang.  Sumber  yang  tertulis  ini  mungkin
merupakan hanya satu kumpulan yang utuh, atau merupakan
bagian-bagian yang bermacam-macam  yang  dapat  dipakai
oleh tiap-tiap pengarang Injil untuk menulis Injilnya.
 
Penyelidikan-penyelidikan  yang  mendalam semenjak satu
abad telah mengungkapkan  teori-teori  yang  berkembang
dan  menjadi  rumit.  Teori  pertama  adalah  teori dua
sumber daripada Holtzmann (tahun 1863).  Menurut  teori
ini   sebagai  yang  dijelaskan  oleh  O.  Culmann  dan
Terjemahan Ekumenik, Matius dan Lukas  memakai  pertama
bahan  Markus,  dan  kedua  suatu dokumen yang sekarang
hilang.  Selain  itu  Matius  dan  Lukas  masing-masing
memakai   satu   sumber  sendiri.  Hal  tersebut  dapat
digambarkan sebagai berikut:
Sumber khusus
                    untuk Matius
                         |
                         |
                 |--> Matius <-- --="" bersama="" dokumen="" markus=""> Lukas  <-- khusus="" lukas="" pre="" sumber="" untuk="">
O. Culmann mengkritik teori tersebut sebagai berikut:
 
 1. Karangan Markus yang dipakai oleh Lukas dan Matius
    belum tentu Injil Markus, akan tetapi suatu karangan
    lain yang ditulis sebelumnya.
 
 2. Dalam teori tersebut tradisi lisan kurang
    diperhatikan, pada hal tradisi lisan inilah yang
    memelihara kata-kata Yesus dan hikayat-hikayat
    kegiatannya selama 30 atau 40 tahun. Sesungguhnya
    tiap-tiap pengarang Injil itu hanya juru bicara
    masyarakat Kristen yang menentukan tradisi lisan.
 
Dengan begitu maka kita  sampai  kepada  suatu  pikiran
bahwa  Injil-Injil  yang kita miliki telah memberi kita
suatu gambaran tentang  kehidupan  dan  kegiatan  Yesus
yang diketahui oleh Masyarakat Kristen Primitif (asli),
begitu juga tentang akidah-akidah mereka, konsep-konsep
teologi  mereka  yang  ditulis oleh juru bicara mereka,
yakni para pengarang Injil.
 
Penyelidikan-penyelidikan  yang  lebih  modern  tentang
kritik  teks  terhadap  sumber-sumber Injil menunjukkan
bahwa  tersusunnya  teks-teks  tersebut  telah  melalui
proses  yang  lebih  kompleks.  La  Synopse  des quatre
Evangiles (ringkasan Injil empat) karangan R.P.  Benoit
dan  R.P.  Boismard,  guru-guru  besar sekolah Bibel di
Yerusalem  (tahun  1972-1973)  menekankan  perkembangan
teks  dalam  tahap-tahap  yang sama dengan perkembangan
tradisi. Hal tersebut  menimbulkan  akibat-akibat  yang
disebutkan  oleh  R.P. Benoit dalam membicarakan bagian
yang ditulis oleh R.P. Boismard:
 
"Bentuk-bentuk  kata-kata  atau  hikayat  yang  terjadi
setelah   perkembangan   yang   lama   tidak  mempunyai
autentitas (kebenaran) yang  terdapat  dalam  kata-kata
asli.  Barangkali  banyak  para pembaca yang heran atau
kesal jika mereka  mengetahui  bahwa  kata-kata  Yesus,
atau  kiasannya  atau ramalannya tentang nasibnya tidak
pernah diucapkan seperti yang kita  baca,  akan  tetapi
sudah  di  retouche  (diperbaiki) atau disesuaikan oleh
orang-orang  yang  meriwayatkannya.  Bagi  mereka  yang
tidak  biasa  dengan  penyelidikan sejarah semacam ini,
hal   ini   mungkin   menyebabkan   keheranan    bahkan
kehebohan."
 
Perbaikan  teks  dan  penyesuaian  yang  dilakukan oleh
mereka yang  meriwayatkan  teks  tersebut  kepada  kita
dilakukan   menurut   cara   yang  oleh  R.P.  Boismard
digambarkan  secara  terperinci  karena  persoalan  itu
merupakan  sambungan  daripada teori dua sumber. Gambar
atau skema itu dibuat setelah  mengadakan  penyelidikan
dan  perbandingan  teks  yang tak dapat diringkaskan di
sini. Para pembaca yang ingin mengetahui dapat  membaca
bukunya, diterbitkan di Paris, cetakan Cerf.
 
Ada   empat   macam   dokumen   pokok   yang  merupakan
sumber-sumber Injil. Dokumen tersebut dinamakan  A,  B,
C, dan Q.
 
Dokumen  A  berasal dari lingkungan Yahudi Kristen yang
memberikan inspirasi kepada Matius dan Markus.
 
Dokumen B adalah reinterpretasi dokumen A yang  dipakai
dalam Gereja Pagan Kristen (Kafir-Kristen). Dokumen ini
telah memberi inspirasi  kepada  semua  penulis  Injil,
kecuali Matius.
 
Dokumen  C telah memberi inspirasi kepada Markus, Lukas
dan Yahya.
 
Dokumen  Q  merupakan  bagian  besar  daripada   sumber
bersama  yang dipakai oleh Matius dan Lukas. Ini adalah
dokumen  bersama  yang  disebutkan  dalam  "teori   dua
sumber" yang tersebut di atas.
 
Di antara 4 macam dokumen tersebut tak ada yang menjadi
teks  definitif  yang  sekarang  kita  miliki,   antara
dokumen-dokumen   tersebut  dan  redaksi  terakhir  ada
redaksi-redaksi antara, yaitu  yang  oleh  pengarangnya
teori  tersebut  dinamakan:  Matius intermedier, Markus
intermedier,   Proto    Lukas    dan    Proto    Yahya.
Dokumen-dokumen   antara   (intermedier)   itulah  yang
akhirnya  menjadi  Injil  empat,  baik  dengan  memberi
inspirasi  kepada masing-masing Injil atau kepada lebih
dan satu Injil-Injil. Di bawah ini adalah  gambar  yang
menunjukkan silang-silang kompleks. '
 
Hasil  daripada  penyelidikan seperti ini adalah sangat
penting, karena dapat menunjukkan bahwa teks-teks Injil
yang  mempunyai  sejarah  (hal  ini akan kita bicarakan
kemudian) juga mempunyai pra-sejarah,  menurut  istilah
Boismard,   artinya   bahwa  teks-teks  tersebut  telah
mengalami  perubahan-perubahan   selama   dalam   tahap
intermedier,  sebelum  mempunyai bentuk yang definitif.
Dengan  begitu,  sekarang  menjadi   terang   soal-soal
seperti:  riwayat  ajaib  tentang Yesus menangkap ikan.
Riwayat tersebut dilukiskan oleh Lukas sebagai kejadian
yang  terjadi  waktu  Yesus  masih hidup dan dilukiskan
oleh  Yahya  sebagai  hikayat  Yesus  menampakkan  diri
sesudah dibangkitkan sesudah mati
R.P. BOISMARD
                 Ringkasan empat Injil
                      SKEMA UMUM
 
       Dokumen Q ->|
                   |-> Matius inter
       Dokumen A ->|
 
       Dokumen A ->|
                   |
       Dokumen B ->|-> Markus inter
                   |
       Dokumen C ->|
 
 
       Dokumen B ->|
                   |
       Dokumen C ->|
                   |-> Proto Lukas ->|
       Dokumen Q ->|                 |-> Lukas final
                   |  Markus inter ->|
    Matius inter ->|
 
 
    Proto Lukas  ->|
                   |
    Markus inter ->|-> Markus final
                   |
    Matius inter ->|
 
 
    Matius inter ->|
                   |-> Matius final ->|
    Markus inter ->|                  |
                                      |
                                      |-> Yahya final
       Dokumen B ->|                  |
                   |                  |
       Dokumen C ->|----> Yahya ----->|
                   |
     Proto Lukas ->|

Keterangan:
a, b, c, q = dokumen-dokumen dasar;
Mat. inter. = Matius intermedier
Mark. inter. = Markus intermedier
Proto Lukas = Lukas intermedier
Yahya = Yahya intermedier
Mat. final = redaksi final Matius
Mark. final = redaksi final Markus
Lukas final = redaksi final Lukas
Yahya final = redaksi final Yahya
 
Konklusi dari semua ini  adalah  bahwa  dengan  membaca
Injil,  kita tidak yakin sama sekali bahwa kita membaca
katakata  Yesus.  R.P.  Benoit  memperingatkan  pembaca
Injil   tentang   hal   ini,   tetapi   memberi   ganti
(kompensasi) sebagai  berikut:  Jika  pembaca  terpaksa
tidak dapat mendengarkan suara langsung daripada Yesus,
ia mendengar suara Gereja; pembaca Injil percaya kepada
juru  bahasa  yang  disahkan  oleh  Yesus, yang setelah
pernah bicara di  dunia  ini  sekarang  berbicara  dari
langit.
 
Bagaimana kita dapat menyesuaikan pengakuan resmi bahwa
beberapa   teks   Injil    tidak    autentik,    dengan
kalimat-kalimat  Konsili Vatikan II tentang wahyu Ilahi
yang  meyakinkan   kepada   kita   tentang   terjadinya
transmisi  (periwayatan)  yang jujur daripada kata-kata
Yesus: "Injil  empat  yang  diakui  oleh  Gereja  tanpa
ragu-ragu tentang sejarahnya, telah menyampaikan secara
jujur apa-apa yang diperbuat dan diajarkan oleh  Yesus,
putra  Tuhan  bagi  keselamatan  abadi, yaitu selama ia
hidup diantara manusia sampai ia diangkat ke langit."
 
Nampaklah dengan jelas sekali bahwa hasil  penyelidikan
Sekolah   Bibel  di  Yerusalem  telah  membantah  keras
deklarasi Konsili Vatikan II. 
 --------------------------------------------------------------------------------
BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
Dr. Maurice Bucaille
 
Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi
Penerbit Bulan Bintang, 1979
Kramat Kwitang I/8 Jakarta
 

Injil Karangan Yahya

Injil Yahya adalah sangat  berbeda  dengan  tiga  Injil
lainnya,  sedemikian  rupa  sehingga R.P. Rouguet dalam
bukunya  Pengantar  kepada   Injil,   setelah   memberi
tafsiran  kepada  ketiga Injil yang pertama, mengatakan
bahwa Injil Yahya merupakan "Dunia yang  lain."  Memang
begitu.  Sesungguhnya  Injil  Yahya merupakan buku yang
sangat berlainan; kita dapatkan di  dalamnya  perbedaan
dalam   tertib   susunannya,  dalam  hikayatnya,  dalam
uraian-uraiannya,  perbedaan  gaya  bahasa,   perbedaan
geografis   dan   kronologis   bahkan  perbedaan  dalam
pandangan teologi  (O.  Culmann).  Dengan  begitu  maka
kata-kata Yesus diriwayatkan oleh Yahya dan oleh ketiga
pengarang Injil lainnya secara  berbeda.  R.P.  Rouguet
menjelaskan  bahwa "Injil-Injil Sinoptik17 meriwayatkan
kata-kata Yesus dalam style yang bernada perintah keras
dan  lebih dekat dengan gaya orang bicara." Dalam Injil
Yahya segala  sesuatu  bernada  "berfikir,"  sedemikian
rupa  sehingga  kita  dapat  bertanya apakah Yesus yang
bicara atau ide  yang  dicetuskan  Yesus  itu  kemudian
diperpanjang      secara     tidak     sadar     dengan
pemikiran-pemikiran pengarang Injil.

Siapakah pengarang Injil Yahya?  Persoalan  ini  banyak
diperdebatkan   dan   memang   terdapat  bermacam-macam
pendapat. A. Tricot dan R.P. Rouguet yakin bahwa  Injil
Yahya  dikarang  oleh  seorang saksi-mata. Pengarangnya
adalah Yahya, anak Zebede , saudara  Yakob  ini  adalah
seorang  sahabat  Yesus  yang  segi-segi hidupnya sudah
terkenal dan terpapar dalam buku-buku  pelajaran  agama
bagi    awam.   Seni   gambar   populer   melukiskannya
berdampingan dengan Yesus pada waktu santapan terakhir,
sebelum  pensaliban.  Siapa  yang  dapat  menggambarkan
bahwa Injil Yahya bukan karangan Yahya,  sahabat  Yesus
yang gambarnya tersebar di mana-mana?

Bahwa  Injil keempat ini ditulis pada waktu yang sangat
terlambat  tidak  menjadi  argumentasi   formal   untuk
melawan  anggapan  di  atas.  Pendapat  yang  definitif
mengatakan bahwa Injil Yahya dikarang pada  akhir  abad
pertama.  Gambaran  bahwa  Injil Yahya ditulis 60 tahun
sesudah Yesus dapat terasa sesuai dengan adanya seorang
sahabat yang sangat muda pada waktu hidupnya Yesus, dan
kemudian berumur panjang hampir satu abad.

R.P.  Kannengiesser   dalam   penyelidikannya   tentang
kebangkitan Yesus berkesimpulan bahwa tak seorangpun di
antara  pengarang-pengarang  Perjanjian  Baru,  kecuali
Paulus,   yang  dapat  dikatakan  saksi  mata  terhadap
kelanjutan Yesus. Walaupun begitu,  Yahya  meriwayatkan
tentang Yesus menampakkan dirinya kepada 12 sahabatnya,
termasuk Yahya sendiri, yang sedang  berkumpul,  tetapi
Thomas   tidak   hadir  (Yahya,  20,  19-24).  Kemudian
kejadian tersebut  terulang;  Yesus  nampak  kepada  12
sahabatnya yang berkumpul lengkap.

O.   Culmann,   dalam  bukunya  Perjanjian  Baru  tidak
membicarakan hal tersebut.

Terjemahan Ekumenik  terhadap  Bibel  mengatakan  bahwa
kebanyakan   para   pengeritik   tidak  dapat  menerima
anggapan  bahwa  Injil  Yahya  adalah  karangan   Yahya
sahabat   Yesus;   memang  tak  ada  kemungkinan  bahwa
anggapan  awam  itu  benar.  Akan  tetapi  semua  orang
berpendapat  bahwa  teks  Injil Yahya itu dikarang oleh
beberapa penulis. Ada  kemungkinan  besar  bahwa  Injil
Yahya  yang  kita  miliki  disiarkan  oleh  murid-murid
pengarang. Mereka itu  telah  menambah  fasal  21,  dan
tidak ada keragu-raguan lagi bahwa mereka juga menambah
catatan-catatan (fasal 4, 2 dan mungkin fasal 4, 1,  4,
44,  7,  37b,  11,  2, 19, 35), mengenai hikayat wanita
yang  berzina,  semua  orang  sependapat  bahwa  sumber
daripada  hikayat  tak dapat diketahui, dan hikayat itu
diselipkan kemudian. (Walaupun  begitu  termasuk  dalam
Injil Kanon). Paragraf 19, 35 nampak sebagai pernyataan
dari  seorang  saksi  mata  (O.  Culmann);  ini  adalah
satu-satunya  paragraf  yang memberikan kesan tersebut,
tetapi  para  ahli  tafsir  Injil   berpendapat   bahwa
paragraf tersebut adalah paragraf tambahan.

O.  Culmann  berpendapat  bahwa  tambahan-tambahan baru
nampak dalam Injil  Yahya  fasal  21,  pasti  merupakan
karya  seorang  murid  yang  memasukkan perubahan dalam
tubuh Injil Yahya.

Dengan   tidak   menyebutkan   hipotesa-hipotesa   yang
diajukan  oleh  para ahli tafsir Injil, catatan-catatan
yang  datang  dari  pengarang-pengarang  Kristen   yang
ternama  dan yang mengenai persoalan siapa yang menulis
Injil  Yahya,  menunjukkan  kepada  kita  bahwa  mereka
berada   dalam   kebingungan.  Nilai  sejarah  daripada
riwayat-riwayat    Yahya    juga    banyak    dibantah.
Perbedaannya  dengan ketiga Injil lainnya adalah besar.
O.   Culmann   mengatakan   bahwa    Yahya    mempunyai
pikiran-pikiran    teologi    yang    berbeda    dengan
pengarang-pengarang Injil  lainnya.  Perbedaan  teologi
ini, menjadi pedoman untuk memilih kata-kata Yesus yang
diriwayatkan, dan cara meriwayatkannya.  Dengan  begitu
maka Yahya sering memperpanjang kata-kata tersebut, dan
melukiskan  Yesus  yang  kita  ketahui  dalam   sejarah
mengatakan,   apa   yang  dikatakan  oleh  Ruhul  Kudus
kepadanya. Bagi ahli tafsir  Injil  ini,  (O.  Culmann)
itulah   sebabnya  perbedaan  antara  Injil  Yahya  dan
Injil-Injil yang lain.

Sudah terang kita dapat menggambarkan bahwa Yahya  yang
menulis Injilnya sesudah pengarang-pengarang lain dapat
memilih hikayat-hikayat yang  lebih  dapat  menerangkan
idenya;   kita   tidak  perlu  heran  jika  kita  tidak
menemukan dalam Injil Yahya  hal-hal  yang  dapat  kita
temukan   dalam   Injil-Injil   yang  lain.  Terjemahan
Ekumenik menyebutkan beberapa hal semacam itu  (halaman
282).  Tetapi  yang  mengherankan  kita  adalah  adanya
kekosongan-kekosongan.  Kekosongan-kekosongan  itu  ada
yang hampir tak dapat dipercaya seperti hikayat lembaga
Ekansti. Kita tak  dapat  menggambarkan  bahwa  hikayat
yang  sangat  penting  bagi  agama Kristen dan kemudian
menjadi tiang (pokok) bagi liturginya yaitu misa, bahwa
hikayat  tersebut  tidak  disajikan oleh Yahya, seorang
pengarang Injil yang  terbaik.  Dan  Yahya  hanya  puas
dengan menceritakan bagaimana Yesus membasuh kaki murid
muridnya,   meramalkan    pengkhianatan    Yudas    dan
pengingkaran Petrus kepadanya.

Sebaliknya  ada  hikayat-hikayat  yang diceritakan oleh
Yahya tetapi tak tersebut dalam Injil-Injil yang  lain.
Terjemahan    Ekumenik    menyebutkan   hikayat-hikayat
tersebut pada halaman 283. Mengenai hal ini orang dapat
mengatakan  bahwa ketiga pengarang Injil Sinoptik tidak
dapat menemukan dalam hikayat  yang  diriwayatkan  oleh
Yahya  sesuatu  arti  yang  penting.  Tetapi kita tentu
merasa heran karena membaca  Injil  Yahya  yang  memuat
hikayat  Yesus  yang  sudah  hidup kembali menampakl;an
dirinya kepada murid-muridnya di pinggir danau Tabariah
(Yahya  21,  1-14);  hikayat tersebut adalah reproduksi
daripada hikayat  mencari  ikan  yang  disebutkan  oleh
Lukas   (5,   1-11)   dengan   banyak  tambahan.  Yahya
menceritakan hikayat tersebut seakan-akan kejadian yang
terjadi pada waktu Yesus masih hidup. Dalam Hikayat ini
Lukas menyebutkan bahwa Yahya  juga  ada,  yakni  Yahya
yang kemudian mengarang Injil Yahya

Hikayat  Injil  Yahya  tersebut  merupakan  bagian dari
fasal 21 yang  semua  penyelidik  sepakat  bahwa  fasal
tersebut  adalah  tambahan.  Dengan  mudah  kita  dapat
menggambarkan  bahwa  disebutkannya  nama  Yahya  dalam
hikayat   Lukas   akan   dapat   memasukkannya   secara
buat-buatan dalam Injil keempat. Bahwa untuk  keperluan
tersebut  orang  harus merubah hikayat dari zaman Yesus
masih hidup menjadi hikayat yang  diriwayatkan  sesudah
Yesus   tidak   ada   lagi,   hal   ini   tidak   dapat
memberhentikan  tindakan  orang-orang  yang   bertujuan
merobah teks Injil.

Ada  lagi  suatu  perbedaan  besar  antara  Injil Yahya
dengan ketiga lnjil lainnya,  yaitu  soal  berapa  lama
Yesus  melakukan  tugasnya.  Markus,  Matius  dan Lukas
mengatakan hanya satu tahun, sedangkan Yahya mengatakan
lebih dari dua tahun O. Culmann mengikuti Yahya.

Terjemahan Ekumenik mengatakan sebagai berikut:

"Injil-Injil  Sinoptik menyebutkan periode Galilia yang
panjang, kemudian  diteruskan  dengan  perjalanan  agak
panjang   ke   Yudea,   kemudian  menetap  sebentar  di
Yerusalem; sebaliknya Yahya menceritakan  Yesus  serirg
pindah  dari satu daerah ke daerah lain, tetapi lama di
Yudea, khususnya di Yerusalem ( I, 19-51 . 2, 13-36. 5,
1-47.  14,  20-31).  Ia  menyebutkan beberapa keramaian
Paskah (2, 13, 5, 1. 6, 4, 11, 55)  dan  dengan  begitu
memberi kesan bahwa Yesus bertugas lebih dari dua tahun

Siapa  yang  kita  percaya?  Markuskah atau Matius atau
Lukas atau Yahya?


 --------------------------------------------------------------------------------
BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
Dr. Maurice Bucaille

Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi
Penerbit Bulan Bintang, 1979
Kramat Kwitang I/8 Jakarta

 17 Sinoptik, adalah Injil Matius, Markus dan Lukas.

Injil Karangan Lukas

Menurut O. Culmann, Lukas adalah pencatat  berita,  dan
menurut R.P. Kannengiesser, Lukas adalah penulis roman.
Lukas menulis dalam Pendahuluan Injilnya, bahwa  banyak
orang  lain  menulis  riwayat  Nabi  Isa,  maka ia akan
menulis riwayat  tentang  kejadian-kejadian  yang  sama
dengan   mempergunakan   hikayat   dan  informasi  dari
saksi-saksi mata (ini  secara  tidak  langsung  berarti
bahwa  Lukas  bukan saksi mata) dan informasi-informasi
yang datang dari  ceramah-ceramah  para  rasul.  Dengan
begitu   maka  yang  ia  sajikan  dengan  syarat-syarat
tersebut  adalah  suatu  karya  yang  tersusun  menurut
metode:

Pendahuluan:

 1. Sedangkan banyak orang sudah mencoba mengarang
    hikayat dari hal segala perkara yang menjadi yakin
    di antara kita.

 2. Sebagaimana yang diserahkan kepada kita oleh orang,
    yang dari mulanya melihat dengan matanya sendiri dan
    menjadi pengajar Injil itu.

 3. Maka tampaknya baik kepadakupun, yang telah
    menyelidiki segala perkara itu dengan betul-betul dari
    asalnya, menyuratkan bagimu dengan peraturannya, hai
    Teopilus yang mulia.

 4. Supaya engkau dapat mengetahui kesungguhan segala
    sesuatu yang diajarkan kepadamu.

Dari baris-baris pertama  kita  sudah  dapat  merasakan
perbedaan  antara  Lukas dengan Markus, seorang penulis
yang kurang mahir yang bukunya  telah  kita  bicarakan.
Injil  Lukas  adalah  suatu karya sastra yang tak dapat
dipungkiri, tertulis dalam bahasa Yunani yang murni.

Lukas adalah seorang kafir yang terpelajar dan kemudian
memeluk  agama  Kristen.  Orientasinya  terhadap  orang
Yahudi  nampak  sekali.  Seperti  yang  dikatakan  oleh
Culmann,  Lukas  tidak  mengutip kembali ayat-ayat yang
berbau  Yahudi  dalam  Injil  Markus,  dan  menonjolkan
kata-kata  Yesus  terhadap  ketidak imannya orang-orang
Yahudi, serta menonjolkan pula  hubungannya  yang  baik
dengan  orang-orang  Samaritan  yang tidak disukai oleh
orang-orang  Yahudi,  sedangkan  Matius,  seperti  yang
telah  kita  lihat, melukiskan bahwa Yesus minta kepada
para  sahabatnya  untuk  menjauhkan  diri  dari   orang
Yahudi.  Ini adalah satu daripada beberapa contoh bahwa
para penulis Injil dengan melukiskan  Yesus  mengatakan
hal-hal  yang  sesuai  dengan  selera  pribadi  mereka.
Mereka itu meriwayatkan kata-kata  Yesus  dengan  versi
yang   dipilih   menurut   pandangan  kelompok  mereka.
Bagaimana kita dapat mengingkari  bahwa  Injil  adalah:
"bukuperjuangan"  atau "buku mengenai suasana tertentu"
seperti yang telah kita  katakan?  Perbandingan  antara
susunan  umum  Injil  Lukas  dengan  susunan umum Injil
Matius memberi bukti tentang hal tersebut.

Siapakah Lukas  itu?  Orang  ingin  mengidentifikasikan
Lukas dengan seorang tabib dengan nama yang sama, yaitu
yang  disebut   oleh   Paulus   dalam   surat-suratnya.
Terjemahan Ekumenik mengatakan bahwa "banyak orang yang
mendapatkan   konfirmasi   mengenai   pekerjaan   Lukas
pengarang    Injil    sebagai   seorang   tabib   dalam
kepandaiannya   untuk   mendiagnosa    orang    sakit."
Keterangan  ini  adalah  berlebih-lebihan. Sesungguhnya
Lukas  tidak  pernah  memperoleh   keterangan   tentang
penyakit   "kata-kata   yang   ia   pakai  adalah  kata
orang-orang terpelajar  pada  zaman  itu."  Memang  ada
seorang  bernama  Lukas  yang  menjadi teman perjalanan
Paulus. Apakah orang itu Lukas Pengarang Injil?  Inilah
yang dikira-kirakan oleh O.Culmann.

Tahun  ditulisnya Injil Lukas dapat dikira-kira menurut
beberapa faktor. Lukas telah mempergunakan Injil Markus
dan   Injil   Matius.  Kita  membaca  dalam  Terjemahan
Ekumenik sebagai berikut:  "nampaknya  ia  tahu  tempat
kota Yerusalem serta reruntuhannya yang disebabkan oleh
tentara Titus pada tahun 70. Dengan begitu  maka  Injil
Lukas  telah  ditulis  sesudah  itu.  Ahli-ahli  kritik
sekarang berpendapat bahwa Injil Lukas ditulis  sekitar
tahun  80-90;  tetapi  ada  juga  yang mengatakan tahun
sebelum itu.

Bermacam-macam Hikayat dalam  Injil  Lukas  menunjukkan
perbedaan  besar dengan Injil-Injil sebelumnya. Di atas
kita  telah  memberikan  gambaran  singkat.  Terjemahan
Ekumenik  telah  membicarakannya  pada  halaman 181 dan
selanjutnya O. Culmann dalam  karangannya:  "Perjanjian
Baru,"  halaman  18  memuat hikayat-hikayat Injil Lukas
yang tidak terdapat dalam  Injil-Injil  lain.  Hal  ini
tidak mengenai perincian.

Hikayat  tentang  masa  kanak-kanak  Yesus  dalam Injil
Lukas adalah hanya terdapat dalam Injil  Lukas.  Matius
memberikan riwayat yang berbeda, sedangkan Markus tidak
memuatnya sama sekali.

Matius dan Lukas memberi silsilah keturunan Yesus  yang
berbeda-beda.  Ada kontradiksi penting, kekeliruan yang
sangat besar dari segi ilmiah  sehingga  perlu  dibahas
dalam  bab khusus. Kita dapat mengerti bila Matius yang
menghadapi  orang-orang  Yahudi,  menyebutkan  silsilah
keturunan  Yesus dan dimulai dengan Nabi Ibrahim sampai
Nabi Daud. Kita dapat memahami pula jika Lukas  seorang
yang  mula-mula  kafir  kemudian memeluk agama Kristen,
memberikan silsilah keturunan sampai yang lebih tinggi.
Akan  tetapi  kita  akan menemukan bahwa bermula dengan
Nabi    Daud    silsilah-silsilah     keturunan     itu
berkontradiksi.

Tugas  kenabian  Yesus  diriwayatkan oleh Lukas, Matius
dan Markus secara berbeda-beda dalam beberapa hal.

Suatu kejadian yang sangat penting bagi  umat  Kristen,
yaitu  lembaga  Ekaristi;15 diriwayatkan secara berbeda
oleh Lukas di satu pihak dan oleh Matius dan Markus  di
pihak  yang  lain.  R.P. Rouguet menulis dalam bukunya,
Pengantar  kepada  Injil  (Initiation  a   l'Evangile),
halaman  75  bahwa  kata-kata  Yesus yang menjadi dasar
kelembagaan  Ekaristi  diriwayatkan  oleh  Lukas   (22,
19-24)  dalam bentuk yang sangat berbeda dengan riwayat
Matius (26, 26-29)  dan  riwayat  Markus  (14,  22-24).
Kedua  yang  terakhir  ini  boleh  dikatakan  sama atau
identik.  Sebaliknya  susunan  yang  diriwayatkan  oleh
Lukas sangat mirip dengan susunan Paulus (surat pertama
kepada orang Korintus 11, 23-25).

Sebagaimana  orang  mengetahui,  Lukas  dalam  Injilnya
meriwayatkan  Kenaikan  Al  Masih  dalam  susunan  yang
berkontradiksi  dengan  riwayat  yang  terdapat   dalam
fasal-fasal  Perbuatan-perbuatan  para Rasul-rasul yang
merupakan bagian penting daripada Perjanjian  Baru  dan
yang  Lukas  sendiri dianggap sebagai penulisnya. Dalam
Injilnya, Lukas mengatakan bahwa kenaikan Al Masih  itu
terjadi pada hari Paskah, sedang dalam: Kisah Perbuatan
Para Rasul, Lukas mengatakan bahwa  kenaikan  Al  Masih
terjadi 40 hari sesudah Paskah.16 Kontradiksi ini telah
mendorong  para  ahli  tafsir   Injil   untuk   memberi
tafsiran-tafsiran yang ajaib.

Akan  tetapi ahli tafsir yang mementingkan obyektifitas
seperti penulis-penulis  Terjemahan  Ekumenik  terhadap
Bibel,  terpaksa mengakui, dalam suatu rangka yang umum
bahwa:  "Bagi  Lukas,  perhatian  pertama  bukan  untuk
meriwayatkan kejadian secara tepat dalam arti ketepatan
material."  R.P.  Kannengiesser  membandingkan  riwayat
yang  terdapat dalam: "Kisah Perbuatan Para Rasul" yang
juga karangan Lukas, dengan  riwayat  tentang  kejadian
yang    sama   yang   diberikan   oleh   Paulus.   R.P.
Kannengiesser  menulis:  "Di  antara  empat   pengarang
Injil,  Lukas  adalah  yang paling berperasaan dan yang
paling  sastrawan.  Ia  menunjukkan  semua  sifat-sifat
penulis roman."


 --------------------------------------------------------------------------------
BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
Dr. Maurice Bucaille

Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi
Penerbit Bulan Bintang, 1979
Kramat Kwitang I/8 Jakarta

15 Ekaristi adalah suatu sakramen (upacara) yang
    menghidangkan roti dan anggur. Roti itu dianggap
    sebagai daging Yesus dan anggur merupakan darahnya.
    Roti dimakan dan anggur diminum deh umat Katolik.
 16 Paskah: Upacara peringatan keluarnya orang Yahudi
    dari Mesir dengan menyeberangi lautan di bawah pimpinan
    Musa.

Jumat, 04 Oktober 2013

Injil Karangan Markus

Injil Markus adalah Injil yang paling pendek, tetapi ia
adalah  Injil  yang  paling tua. Ia bukan buku karangan
seorang sahabat Yesus,  akan  tetapi  karangan  seorang
murid sahabat Yesus.

O.  Culmann  menulis  bahwa  ia tidak menganggap Markus
sebagai murid Yesus, akan tetapi ia mengingatkan kepada
mereka  yang sangsi akan kebenaran anggapan bahwa Injil
itu ditulis oleh  Markus  seorang  rasul  atau  sahabat
Yesus, bahwa "Matius dan Lukas tidak akan mempergunakan
Injil tersebut  seandainya  mereka  tidak  yakin  bahwa
Injil  Markus  didasarkan  pada  ajaran seorang Rasul."
Tetapi argumentasi seperti  ini  tidak  meyakinkan.  O.
Culmann  juga  mengutip  untuk  menguatkan "reserve"nya
bahwa Injil tersebut memuat banyak kutipan-kutipan dari
seorang.  "Yahya yang digelari Markus" dalam Perjanjian
Baru,  akan  tetapi  kutipan-kutipan   tersebut   tidak
menyebutkan  nama  seorang  pengarang  Injil,  dan teks
Markus sendiri juga tidak menyebutkan pengarangnya.

Kurangnya penerangan, tentang hal ini menyebabkan  para
ahli   tafsir   menganggap   perincian-perincian   yang
bersifat khayalan sebagai hal yang berharga,  contohnya
sebagai  berikut:  berdasarkan  anggapan  bahwa  Markus
adalah satu-satunya pengarang Injil  yang  meriwayatkan
kejadian  penyaliban  Yesus,  hikayat seorang muda yang
hanya memakai sehelai kain untuk  pakaiannya,  kemudian
ketika ditangkap, ia menanggalkan sehelai kain tersebut
serta lari telanjang (Markus 14, 51-52),  banyak  orang
mengambil konklusi bahwa pemuda tersebut adalah Markus,
seorang  murid  yang  setia  yang  berusaha   mengikuti
gurunya  (Terjemahan  Ekumenik).  Bagi  beberapa  orang
lainnya dapat dilihat di sini  "dengan  kenang-kenangan
pribadi,  suatu  bukti  kebenaran,  suatu  tanda tangan
anonime, membuktikan bahwa ia adalah  saksi  mata"  (O.
Culmann).

Bagi   pengarang   ini   "banyak   pemutaran  kata-kata
menguatkan hipotesa bahwa pengarang Injil Markus adalah
seorang   Yahudi,"   tetapi  adanya  latinisme  (bentuk
kesusasteraan  latin)  memberi  kesan  bahwa  pengarang
tersebut  menulis  Injilnya di kota Roma. "Ia berbicara
kepada  orang-orang  Kristen  yang  tidak  tinggal   di
Palestina,    dan   ia   berusaha   untuk   menjelaskan
kalimat-kalimat Aramaik yang ia pergunakan."

Tradisi menggambarkan, Markus sebagai teman  Petrus  di
Roma.  Ini  didasarkan atas kata penutup daripada surat
Petrus yang pertama,  jika  Petrus  memang  betul-betul
orang yang menulis surat tersebut. Petrus telah menulis
dalam suratnya:  "Kelompok  orang-orang  yang  terpilih
yang  ada  di Babylon kirim salam kepadamu, begitu juga
Markus, anakku," Babylon amat boleh jadi  Roma,  begitu
kita   dapatkan   dalam   tafsir  Terjemahan  Ekumenik,
sehingga orang mengira dapat mengambil  konklusi  bahwa
Markus  yang  bersama  Petrus  berada  di  Roma  adalah
penulis Injil Markus. Apakah pemikiran  semacam  itulah
yang  mendorong Papias, uskup Hierapolis pada kira-kira
tahun 150 untuk mengatakan bahwa yang  mengarang  Injil
adalah Markus, juru bahasa Petrus dan seorang yang juga
bekerja sama dengan Paulus?

Dengan kaca  mata  ini,  orang  menempatkan  penyusunan
Injil  Markus sesudah matinya Petrus, yakni paling pagi
antara tahun 65 dan 70 menurut  "Terjemahan  Ekumenik,"
atau kira-kira tahun 70 menurut O. Culmann.

Teks  Injil  Markus menunjukkan suatu cacat yang besar,
karena ditulis  tanpa  mengindahkan  kronologi.  Dengan
begitu  Markus menyebutkan dalam permulaan Injilnya (1,
16-20), hikayat empat orang nelayan yang  dilatih  oleh
Yesus   dengan  katanya:  "Kamu  akan  menjadi  pembaru
manusia," pada saat mereka belum  kenal  dengan  Yesus.
Pengarang   Injil  tersebut  juga  menunjukkan  ketidak
mampuan menilai kebenaran.

Seperti yang dikatakan oleh R.P. Rouguet, Markus adalah
seorang  penulis yang kurang pandai, "yang paling bodoh
di antara para  pengarang  Injil."  Ia  tidak  mengerti
bagaimana    menulis   hikayat.   Ahli   tafsir   Injil
menyandarkan  penilaian  ini   kepada   paragraf   yang
meriwayatkan  kelembagaan  12  rasul,  yang  terjemahan
harfiahnya sebagai berikut: "Ia naik ke atas gunung dan
mengundang  mereka  yang  ia  kehendaki,  mereka datang
kepadanya. Ia menjadikan 12 orang  itu  supaya  bersama
dengannya, supaya Ia dapat mengirim mereka mencari ikan
dan mempunyai kekuatan untuk  mengusir  setan.  Dan  ia
membuat  12  orang  dan  memaksakan  nama Petrus kepada
Simon" (Markus 3, 13-16).

Dalam beberapa hikayat,  Markus  berkontradiksi  dengan
Matius   dan  Lukas  seperti  yang  kita  pernah  lihat
berhubung dengan alamat Yunus. Di samping itu  mengenai
alamat  yang diberikan oleh Yesus kepada beberapa orang
selama Yesus bertugas, Markus (8,  11-12)  meriwayatkan
suatu  dongengan yang tak dapat dipercaya, "orang-orang
Parisi datang dan  mulai  bicara  dengan  Yesus;  untuk
menjebak  Yesus,  mereka minta suatu alamat yang datang
dari langit. Sambil  menunjukkan  keluhan  yang  dalam,
Yesus  berkata:  mengapa generasi ini minta alamat? Aku
berkata kepadamu: Sesungguhnya tak ada alamat yang akan
diberikan  kepada generasi ini. Ia meninggalkan mereka,
naik di atas perahu  kecil  dan  berangkat  ke  daratan
sebelah."

Ini  tidak dapat disangkal lagi adalah karena penegasan
dari Yesus sendiri tentang niatnya tidak akan melakukan
sesuatu  perbuatan  yang  supernatural. Oleh karena itu
ahli-ahli tafsir  daripada  Terjemahan  Ekumenik  heran
karena   Lukas   menerangkan  bahwa  Yesus  hanya  akan
memberikan  satu  alamat,  yaitu  alamat   Nabi   Yunus
(silahkan baca Injil Matius), dan merasakan kontradiksi
karena  Markus  berkata  "generasi   ini   tidak   akan
mendapatkan   sesuatu   alamat,   dan  kemudian  mereka
memperingatkan kepada mukjizat  yang  ditunjukkan  oleh
Yesus sendiri sebagai alamat" (Lukas.7, 22 dan 11, 20).
Seluruh Injil  Markus  dianggap  Canon  (kanon)  secara
resmi.  Akan tetapi kita ingat bahwa akhir Injil Markus
( 16, 9-20)  dianggap  oleh  ahli-ahli  modern  sebagai
suatu karya yang ditambahkan. Terjemahan Ekumenik tegas
dalam hal ini. Bagian terakhir  tersebut  tidak  dimuat
dalam  dua  manuskrip  kuno  Injil  yang komplit, yaitu
Kodex Vatikanus dan  Kodex  Sinaitikus  dari  abad  IV.
Mengenai     hal     ini     O.     Culmann    menulis:
Manuskrip-manuskrip Yunani yang lebih baru dan beberapa
versi  telah menambah suatu konklusi yang tidak ditulis
oleh Markus sendiri tetapi diambil dari beberapa Injil.
Sesungguhnya  versi  bagian  terakhir  yang ditambahkan
adalah banyak. Dalam teks kadang-kadang terdapat  versi
panjang,    kadang-kadang    terdapat    versi   pendek
(dua-duanya   telah   diterbitkan   dalam    Terjemahan
Ekumenik),  kadang-kadang versi panjang dengan tambahan
dan kadang-kadang kedua versi bersama.

R.P. Kannengiesser memberi  komentar  sebagai  berikut:
orang  terpaksa  menghapuskan ayat-ayat terakhir ketika
Injil Markus diterima secara resmi oleh masyarakat yang
menjamin, begitu juga ketika Injil Markus dicetak untuk
awam. Baik Matius, maupun Lukas atau Yahya  tidak  tahu
bagian  yang ditinggalkan Injil Markus. Walaupun begitu
kekosongan tersebut sangat  terasa.  Lama  sesudah  itu
ketika   Injil-Injil  Matius,  Lukas  dan  Yahya  telah
tersiar, orang mengumpulkan bagian terakhir dari  Injil
Markus  dengan mengambil dari kiri dan kanan, dari para
pengarang  Injil  lainnya,   menjadi   mudahlah   untuk
mengulangi  bagian-bagian  tebakan  ini  dengan membaca
Markus (16, 9-20). Dengan begitu orang akan mendapatkan
suatu   ide   yang   kongkrit  tentang  kebebasan  para
pengarang    dalam    membentuk     susunan     literer
hikayat-hikayat Bibel sampai permulaan abad II.

Tak  ada  pengakuan tentang adanya manipulasi teks suci
yang  dilakukan  oleh   manusia   lebih   terang   dari
pikiran-pikiran  tersebut  yang dicetuskan oleh seorang
ahli teologi yang besar.


 --------------------------------------------------------------------------------
BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
Dr. Maurice Bucaille

Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi
Penerbit Bulan Bintang, 1979
Kramat Kwitang I/8 Jakarta


INJIL KARANGAN MATIUS

Di antara empat Injil, Injil Matius adalah yang pertama
dalam urutan kitab-kitab (fasal-fasal) Perjanjian Baru.
Hal ini memang tepat oleh  karena  Injil  Matius  hanya
merupakan   kelanjutan   dan   Perjanjian  Lama.  Injil
tersebut ditulis untuk menunjukkan bahwa  "Yesus  telah
menamatkan  sejarah  Bani  Israil"  yaitu  seperti yang
dikatakan  oleh  para  pengarang  "Terjemahan  Ekumenik
daripada  Bibel"  yang  akan  banyak kita kutip. Karena
maksud tersebut di atas, Matius  selalu  mengutip  dari
Perjanjian  Lama,  serta  menunjukkan bahwa Yesus telah
berbuat sebagai Al Masih  (Pemimpin  yang  diakui  oleh
rakyat  dengan  upacara  mengusapkan  minyak kasturi ke
badannya) yang  telah  lama  dinanti  oleh  orang-orang
Yahudi.
 
Injil ini bermula dengan menyebutkan silsilah keturunan
Yesus.10 Matius rnenunjukkan bahwa asal-usul Yesus  itu
sampai  kepada  nabi  Ibrahim  melalui nabi Dawud. Kita
akan menemukan kesalahan teks  yang  biasanya  dianggap
sepi   oleh   para   ahli  tafsir  Injil.  Bagaimanapun
keadaannya, maksud Matius  adalah  jelas,  yaitu  untuk
mempergunakan hubungan keturunan dengan Ibrahim sebagai
bukti bahwa karangannya itu mempunyai suatu tujuan  dan
maksud.  Matius mengikuti garis yang sama dengan selalu
menonjolkan sikap  Yesus  terhadap  hukum-hukum  Yahudi
yang  mengandung  tiga prinsip besar yaitu: sembahyang,
puasa dan sedekah.
 
Yesus ingin menyampaikan ajarannya pertama-tama  kepada
rakyatnya. Ia berkata kepada para rasul yang dua belas:
"Jangan mengikuti jalannya orang kafir dan jangan masuk
ke  kotanya  orang-orang Samara;11 lebih baik. pergilah
kepada domba-domba Bani Israil yang hilang" (Matius 15,
24).  Pada akhir Injilnya, Matius memperluas tugas para
murid-murid Yesus yang  pertama  dan  melukiskan  Yesus
sebagai    memerintahkan:   "Pergilah   dan   timbulkan
pengikut-pengikut dari segala bangsa (Matius  28,  19),
tetapi  permulaan  dakwah  harus  diutamakan untuk Bani
Israil." Mengenai Injil Matius ini, A. Tricot  menulis:
"Injil Matius adalah suatu buku Yahudi dalam bentuk dan
jiwanya. Walaupun ditutup dengan pakaian  Yunani,  buku
itu  tetap  berbau  Yahudi  dan  menunjukkan  ciri-ciri
Yahudi."
 
Pandangan-pandangan tersebut di atas  menempatkan  asal
Injil  Matius  dalam tradisi masyarakat Yahudi Kristen,
yang sebagaimana dikatakan oleh  O.  Culmann,  berusaha
sekuat-kuatnya   untuk   melepaskan   diri  dan  ikatan
agama-agama  Yahudi,  tetapi  dengan  tetap  memelihara
kontinuitas  Perjanjian Lama. Pokok-pokok perhatian dan
nada kitab Injil Matius pada umumnya menunjukkan adanya
situasi yang tegang.
 
Faktor-faktor   politik   juga   terasa   dalam   teks.
Pendudukan  Kerajaan  Romawi  di  Palestina  menyalakan
semangat  bangsa Yahudi untuk mencapai kemerdekaan, dan
mereka berdo'a kepada Tuhan untuk membantu bangsa  yang
Ia   pilih  daripada  bermacam-macam  bangsa.  Tuhannya
Israil adalah Tuhan yang  Maha  Kuasa  dan  yang  dapat
memberi  bantuan  langsung dalam urusan-urusan manusia,
sebagaimana  Ia  telah   berbuat   berkali-kali   dalam
sejarah.
 
Siapakah  Matius  itu?  Kita  mengatakan  dengan tegas
bahwa  pada  waktu  sekarang  ia  tidak  lagi  dianggap
sebagai  sahabat  Yesus. A. Tricot menggambarkan Matius
dalam tafsirnya  terhadap  Terjemahan  Perjanjian  Baru
tahun  1960  sebagai berikut: "Matius alias Levi adalah
seorang pegawal kantor bea cukai di  distrik  Kafrna'um
ketika  ia diminta oleh Yesus supaya menjadi salah satu
dari pengikut-pengikutnya."  Begitulah  yang  dikatakan
oleh  pemimpin-pemimpin  Gereja seperti Origene, Yerome
dan Epihane. Tetapi sekarang  orang  berpendapat  lain;
suatu  hal yang tak dapat disangkal adalah bahwa Matius
adalah seorang Yahudi,  kata-katanya  adalah  kata-kata
dari  daerah  Palestina,  sedang  susunan  kata-katanya
adalah   Yunani.   Pengarang    (Matius)    mengarahkan
karangannya   kepada  kelompok  yang  berbicara  dengan
bahasa Yunani, mengetahui  adat  kebiasaan  Yahudi  dan
bangsa Aramaik; begitulah menurut O. Culmann.
 
Menurut  ahli-ahli  tafsir  "Terjemahan Ekumenik," asal
usul Injil Matius adalah sebagai berikut:
 
"Biasanya orang berpendapat bahwa Injil Matius  ditulis
di  Syria  atau  di  Phenisie karena di tempat tersebut
terdapat  banyak  orang-orang  Yahudi.12   Kita   dapat
merasakan  suatu  polemik  melawan agama Yahudi Sinagog
yang ortodoks yang dianut oleh kaum Parisi  sebagaimana
yang   terjadi   dalam  Konferensi  Sinagog  di  Yamina
kira-kira pada tahun 80. Dalam keadaan keadaan  semacam
itu  banyak  pengarang-pengarang  yang mengatakan bahwa
Injil Matius  ditulis  di  antara  tahun  80  90,  atau
mungkin lebih dahulu sedikit, karena tak ada cara untuk
mencari kepastian."
 
"Oleh karena kita tidak mengetahui nama pengarang  yang
sesungguhnya,  maka  kita  akan  terpaksa  merasa  puas
dengan  sifat-sifat  yang   diterangkan   dalam   Injil
tersebut;  pengarang dapat dikenal dengan pekerjaannya.
Ia mahir dalam pengetahuan  tentang  kitab-kitab  suci,
tradisi Yahudi, kenal dan menghormati pembesar-pembesar
agama   daripada    bangsanya    tetapi    menghadapkan
persoalan-persoalan  kepada  mereka  dengan  kasar;  ia
mahir dalam mengajar  dan  dalam  memperkenalkan  Yesus
kepada para pendengar, selalu mendesakkan akibat-akibat
praktis  tentang  ajaran-ajarannya,  ia  membalas  baik
terhadap  sinyalemen  seorang  Yahudi  terpelajar  yang
menjadi pemeluk agama Kristen,  seorang  pemilik  rumah
yang  dapat  mengeluarkan dari simpanannya hal-hal yang
baru atau lama, seperti yang dikatakan oleh Matius  13,
52.  Dengan gambaran seperti di atas, kita menjadi jauh
daripada  seorang  pegawai  kantor  di  Kafrna'um  yang
diberi  nama  Levi  oleh  Markus dan Lukas dan kemudian
menjadi salah satu daripada  dua  belas  orang  sahabat
Yesus.
 
Semua   orang  setuju  untuk  mengatakan  bahwa  Matius
menulis Injilnya dengan mengambil bahan daripada sumber
yang  sama  dengan  sumbernya  Markus  dan  Lukas. Akan
tetapi riwayatnya berlainan dalam  hal-hal  yang  pokok
sebagai  yang  akan  kita  lihat nanti. Walaupun begitu
Matius telah mempergunakan Injil Markus, padahal Markus
bukan muridnya Yesus," begitulah kata O. Culmann.
 
Matius  bersikap  liberal  (bebas)  terhadap teks-teks.
Kita  akan  menemukannya  mengutip  silsilah  keturunan
Yesus  dari  Perjanjian  Lama  dan  diletakkannya  pada
permulaan  Injilnya.  Ia  menyelipkan  dalam   Injilnya
hikayat-hikayat yang tak dapat dipercayai (incroyable).
Kata: "tak dapat dipercayai" adalah kata  yang  dipakai
oleh   R.P.   Kannengiesser  pada  bukunya  Foi  en  la
Resurrection, Resurrection de la foi (Percaya  terhadap
hidup  kembalinya  Yesus, kembali hidupnya kepercayaan)
dalam hikayat hidupnya Yesus kembali, yakni  dalam  hal
yang   mengenai   "pengawal."  Ia  menunjukkan  "kurang
bobotnya sejarah  pengawal  militer  kuburan;  pengawal
militer kuburan itu adalah tentara Kafir yang tidak ada
hubungannya dengan atasan mereka,  akan  tetapi  mereka
melapor  kepada para pendeta besar yang menggaji mereka
untuk mengatakan  kebohongan-kebohongan."  Tetapi  R.P.
Kannengiesser    menambahkan:    "Kita    tidak   boleh
mencemoohkan, karena maksud Matius adalah sangat  baik,
oleh  karena  ia mempersatukan bahan-bahan kuna tradisi
lisan dengan karya yang ditulisnya. Penyajiannya  mirip
dengan Yesus Christ Superstar.13
 
Penelitian-penelitian  tentang  Matius  ini  berasalkan
dari seorang besar ahli teologi, seorang Professor dari
Lembaga Katolik di Paris.
 
Matius  menyebutkan  dalam tulisannya kejadian-kejadian
yang berbarengan dengan matinya Yesus; ini adalah suatu
contoh  lain  tentang  khayalannya. Beginilah bunyinya:
Setelah tutup daripada tempat suci  itu  robek  menjadi
dua,  dari  atas  ke  bawah,  maka bumipun bergeraklah,
batu-batu  luluh,  kuburan-kuburan   menjadi   terbuka,
mayat-mayat  para  wali  menjadi  hidup.  Setelah Yesus
bangkit kembali, mayat-mayat hidup itupun masuk ke kota
suci dan memperlihatkan diri kepada orang banyak.
 
Paragraf  daripada  Matius  ini  (27,  51-53)  tak  ada
bandingannya  dalam  Injil-Injil  lainnya.  Kita  tidak
mengerti  bagaimana  mayat-mayat para wali dapat bangun
hidup kembali pada waktu wafatnya  Yesus  (malam  Sabat
seperti  yang  tersebut  dalam  Injil-Injil)  dan tidak
keluar dari kuburan mereka sampai Yesus bangkit kembali
{keesokan hari sesudah Sabat, menurut sumber-sumber itu
juga).
 
Barangkali  hanya  dalam  Injil  Matius  kita  dapatkan
kekeliruan-kekeliruan  yang  sangat  menyolok dan tidak
dapat dipertahankan lagi,  yaitu  hal  yang  dilukiskan
sebagai kata-kata yang keluar dari mulut Yesus.
 
Matius   meriwayatkan   dalam   Injilnya   (12,  38-40)
dongengan tentang alamat Yunus:
 
Yesus berada di tengah-tengah para  ahli  agama  Yahudi
dan  orang-orang  Parisi  yang  berkata  kepadanya: "Ya
Tuan. Guru, kami mengharap tuan Guru menunjukkan  suatu
alamat  kepada  kami,"  Yesus menjawab: "Generasi jahat
dan pelacurlah yang minta suatu alamat. Tak  ada  suatu
alamat  yang  akan  diberikan  kepadanya kecuali alamat
nabi Yunus. Karena sebagaimana Yunus berada dalam perut
monster  tiga  hari  dan  tiga  malam, begitu juga anak
manusia (Yesus sendiri) akan berada di dalam tanah tiga
hari dan tiga malam." (teks terjemahan Ekumenik).
 
Sebagai  tersebut  di  atas, Yesus mengumumkan bahwa ia
akan berada dalam  tanah  tiga  hari  dan  tiga  malam.
Padahal  Matius  dan  juga Lukas dan Markus menyebutkan
dalam  Injil   mereka,   bahwa   wafatnya   Yesus   dan
penguburannya   terjadi  pada  hari  Sabtu  malam.  Ini
berarti bahwa Yesus berada di dalam tanah  selama  tiga
hari.  Akan  tetapi semua kejadian itu hanya mengandung
dua malam.14
 
Biasanya para ahli tafsir Injil menutup mulut  terhadap
hikayat  ini.  Meskipun begitu R.P. Rouguet menunjukkan
kekeliruan tersebut karena ia mengatakan bahwa hari itu
hanya  ada  satu hari penuh, dan dua malam. Tetapi R.P.
Rouguet  menambahkan:   "tetapi   kalimat-kalimat   itu
diringkaskan  dan  hanya mempunyai satu arti yaitu tiga
hari." Adalah menyedihkan jika kita melihat  para  ahli
tafsir   memakai   argumentasi-argumentasi  yang  tidak
mempunyai  arti  positif,  padahal  seandainya   mereka
mengatakan  bahwa  ketidak serasian itu disebabkan oleh
kekeliruan yang membuat naskah, keterangan mereka  akan
sangat memuaskan akal dan pikiran.
 
Yang    menjadi    ciri-ciri    Injil   Matius   selain
kekeliruan-kekeliruan tersebut di  atas,  adalah  bahwa
Injil  Matius  merupakan  Injil kelompok Yahudi Kristen
yang sedang memutuskan hubungannya dengan agama Yahudi,
tetapi  tetap dalam garis Perjanjian Lama. Injil Matius
ini mempunyai arti yang sangat penting jika di  pandang
dari segi sejarah agama Yahudi Kristen.
 

 --------------------------------------------------------------------------------
BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
Dr. Maurice Bucaille
 
Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi
Penerbit Bulan Bintang, 1979
Kramat Kwitang I/8 Jakarta
 
10 Kontradiksi silsilah keturunan Yesus dalam Injil
    Matius dengan silsilah dalam Injil Lukas akan dibahas
    dalam satu bab khusus.
 11 Kaum Samaria adalah orang-orang yang mengikuti Hukum
    Taurah. Mereka menunggu kedatangan Antara lain Masih
    dan setia melakukan upacara-upacara Yahudi, akan tetapi
    mereka mendirikan satu temple sebagai saingan terhadap
    temple di Yerusalem.
 12 Kita bertanya apakah tidak mungkin ada masyarakat
    Yahudi Kristen juga di Alexandria. Sesungguhnya O.
    Culmann juga menyebutkan hipotesa ini.
 13 Suatu film dari Amerika tentang Yesus tetapi merubah
    sejarah Yesus.
 14 Dalam paragraf lain dalam Injilnya, Matius
    menyebutkan hikayat ini juga, akan tetapi tidak
    menyebutkan waktunya secara tepat (16, 1-4). Begitu
    juga Lukas (11, 29-32), Markus sebagaimana kita akan
    lihat, menyebutkan Yesus berkata bahwa Ia tidak akan
    memberi alamat kepada generasi ini (Markus 8, 11-12).

INJIL EMPAT, SUMBER-SUMBER DAN SEJARAHNYA

Dalam karangan-karangan  yang  ditulis  pada  permulaan
sejarah  agama  Kristen,  Injil  baru  disebutkan, lama
sesudah surat-surat Paulus. Bukti-bukti tentang  adanya
lnjil-Injil  baru  terdapat pada pertengahan abad II M,
dan lebih tepat lagi sesudah tahun 140, padahal  banyak
pengarang-pengarang  Kristen  dari  permulaan  abad  II
sudah mengetahui adanya surat-surat Paulus.

Pernyataan-pernyataan yang dimuat dalam  l'Introduction
a la Traduction oecumeniq de la Bible Nouveau Testament
(Pengantar  kepada   terjemahan   bersama   Protestant,
Katolik - Perjanjian Baru) cetakan tahun 1972 tersebut,
perlu diingat betul-betul, dan perlu diingat pula bahwa
buku  Pengantar  tersebut  adalah  hasil karya kolektif
yang  mengumpulkan  sarjanae-sarjana   Protestant   dan
Katholik yang jumlahnya lebih dari 100 orang.

Injil  yang  kemudian  menjadi resmi atau Kanonik, baru
diketahui lama sesudah itu, meskipun  redaksinya  sudah
selesai  pada  permulaan  abad  II.  Menurut terjemahan
ekumenik orang mulai menyebutkan riwayat-riwayat  Injil
mulai  pertengahan  abad  II, "akan tetapi selalu sukar
untuk menetapkan apakah riwayat-riwayat itu  disebutkan
menurut    teks    tertulis    atau    hanya    menurut
ingatan-ingatan fragmen daripada tradisi lisan."

"Sebelum tahun 140 tak ada bukti-bukti bahwa ada  orang
yang  mengetahui  tentang  kumpulan  fasal-fasal Injil;
begitulah  yang  kita  baca  dalam  komentar   mengenai
terjemahan   Bibel."   Keterangan   tersebut   di  atas
bertentangan dengan apa yang  ditulis  oleh  A.  Tricot
(tahun 1960) dalam komentar terjemahan Perjanjian Baru.
"Dari pagi-pagi semenjak permulaan abad II,  telah  ada
kebiasaan  memakai  perkataan  Injil, untuk menunjukkan
fasal-fasal yang disekitar tahun 150  Yustin  menamakan
memoar  para Rasul." Pernyataan yang semacam itu sangat
sering sehingga akibatnya orang awam mempunyai gambaran
yang keliru tentang waktu pengumpulan Injil.

Injil-Lnjil  menjadi  suatu  kesatuan satu abad setelah
Yesus tidak ada lagi, dan bukan sebelum itu. Terjemahan
Ekumenik  Bibel mengira-ngirakan bahwa Injil yang empat
itu mendapat status sebagai Injil Kanonik sekitar tahun
170.

Pernyataan  Yustin yang mengatakan bahwa para pengarang
Injil adalah para rasul (sahabat Yesus) tak dapat  lagi
diterima  pada  waktu ini, seperti yang akan kita lihat
nanti mengenai waktu penyusunan Injil-Injil. A.  Tricot
menerangkan  bahwa Injil Matius, Markus dan Lukas telah
disusun sebelum tahun  70.  Pernyataan  tersebut  tidak
dapat  diterima  kecuali  yang  mengenai  Markus.  Juru
tafsir, A. Tricot ini, seperti juru-juru tafsir lainnya
merasa  berbuat  amal  kebajikan untuk melukiskan bahwa
para   penulis   Injil    adalah    rasul-rasul    atau
sahabat-sahabat   Yesus,  dan  dengan  begitu  maka  ia
memajukan waktu  penyusunannya  sehingga  dekat  kepada
waktu  hidupnya  Yesus. Adapun Yahya yang oleh A. Tncot
digambarkan sebagai seorang  yang  hidup  sampai  tahun
100,   orang-orang   Kristen   biasa   membaca  namanya
disebutkan  dekat   Yesus   dalam   peristiwa-peristiwa
penting,  akan  tetapi  sangat  sukar  untuk memastikan
bahwa orang itu adalah  pengarang  Injil  yang  membawa
nama  Injil  Yahya.  Rasul Yahya (sebagai juga Matius),
bagi A.Tricot dan beberapa ahli tafsir  lainnya  adalah
saksi   yang   cakap   dan   boleh  dipercaya  mengenai
kejadian-kejadian    yang    diriwayatkannya;    tetapi
kebanyakan  ahli  kritik  tidak  menerima hypotesa yang
mengatakan bahwa sahabat  Yahya  itu  adalah  pengarang
Injil keempat

Tetapi jika empat Injil itu tidak dapat dianggap secara
memuaskan sebagai memoar para rasul atau  para  sahabat
Yesus, darimanakah asal Injil-Injil itu?

O.Culmann   dalam   bukunya:  Perjanjian  Baru  (1967),
Presses Universitaire de France,  menulis  bahwa  "para
pengarang  Injil  adalah  juru  bicara  dari masyarakat
Kristen asli yang menentukan tradisi lisan;  selama  30
tahun  atau  40  tahun,  Injil  hanya  ada dalam bentuk
tradisi  lisan;  tradisi  meriwayatkan  kata-kata  atau
hikayat-hikayat  yang  terpisah-pisah.  Para  pengarang
Injil  menghubungkan   hal-hal   yang   terpisah   itu,
masing-masing   menurut  caranya  dan  seleranya  serta
perhatian   teolognya   yang   khusus.    Pengelompokan
kata-kata   Yesus   sebagai  rangkaian  riwayat-riwayat
dengan kata-kata penghubung yang kabur seperti: sesudah
itu,  selekasnya,  dan  lain-lain  yang  terdapat dalam
Injil-Injil Sinoptik9 hanya merupakan  susunan  literer
dan tidak mempunyai dasar sejarah."

Pengarang  tersebut meneruskan: "Kita harus ingat bahwa
yang menjadi pedoman  kelompok  primitif  (asli)  dalam
menentukan   tradisi  mengenai  kehidupan  Yesus  bukan
perhatian terhadap sejarah  hidup  Yesus,  akan  tetapi
kebutuhan  untuk  berdakwah  untuk pendidikan dan untuk
beribadah.   Para   rasul    menggambarkan    kebenaran
kepercayaan   yang   mereka   dakwahkan   dengan   cara
meriwayatkan kejadian-kejadian dalam  kehidupan  Yesus.
Khotbah-khotbah    mereka    itulah   yang   menentukan
hikayat-hikayat tersebut. Kata-kata Yesus  diriwayatkan
khususnya dalam pengajaran kateketiknya Gereja asli.

Para  penyusun  "Terjemahan  Ekumenik  dari pada Bibel"
tidak menyebutkan  mengenai  penyusunan  Bibel  kecuali
terbentuknya    tradisi   lisan   di   bawah   pengaruh
nasehat-nasehat  murid  Yesus  dan   juru-juru   dakwah
lainnya.  Pemeliharaan bahan-bahan tersebut dalam Injil
adalah     dengan      jalan      dakwah,      liturgi,
pengajian-pengajian  para  penganut  agama  yang setia.
Kemungkinan  tersusunnya   bentuk   tertulis   mengenai
kepercayaan,  kata-kata  tertentu danpada Yesus seperti
Hikayat  Penyaliban  umpamanya,  para  pengarang  Injil
memakai  bentuk  tertulis  bersama  dengan tradisi oral
untuk menghasilkan teks yang sesuai  dengan  lingkungan
yang  bermacam-macam,  untuk memenuhi kebutuhan Gereja,
untuk menunjukkan pemikiran tentang kitab  suci,  untuk
membetulkan  yang  salah dan untuk menjawab argumentasi
lawan.  Dengan  begitu  maka   para   pengarang   Injil
mengumpulkan   secara   tertulis  hal-hal  yang  mereka
dapatkan sebagai tradisi lisan,  masing-masing  menurut
pandangan dan seleranya."

Sikap  kolektif yang diperlihatkan oleh 100 ahli tafsir
Perjanjian Baru Katolik dan Protestant  berbeda  sekali
dengan  garis  yang  ditetapkan oleh Konsili Vatikan II
dalam  penyusunan   dogmatik   tentang   Wahyu,   yaitu
penyusunan  yang dikerjakan antara tahun 1962 dan tahun
1965. Kita telah menyebutkan di  atas  tentang  dokumen
penting  yang dihasilkan oleh Konsili tersebut mengenai
Perjanjian Lama. Konsili Vatikan  II  telah  mengatakan
bahwa  fasal-fasal  Perjanjian  Lama mengandung hal-hal
yang tidak sempurna dan  lemah  (imparfait  et  caduc),
akan tetapi Konsili tersebut tidak memberikan "reserve"
yang sama terhadap Injil. Sebaliknya  Konsili  tersebut
menyebutkan:

"Semua orang tahu bahwa di antara tulisan-tulisan Kitab
suci, termasuk yang  terdapat  dalam  Perjanjian  Baru,
Injil-Injil menunjukkan kelebihan yang menonjol, karena
Injil itu merupakan kesaksian  yang  tertinggi  tentang
kehidupan  dan  ajaran kata Tuhan yang menjelma menjadi
manusia, juru selamat kita.  Di  mana  saja  dan  kapan
saja,  Gereja  selalu  mempertahankan bahwa empat Injil
itu berasal dari para Rasul (sahabat Isa).  Injil-Injil
itu  adalah apa yang telah diceramahkan oleh para Rasul
dengan mengikuti perintah Yesus. Oleh karena  itu  maka
para  Rasul  dan  orang-orang  yang selalu dekat dengan
mereka, telah mendapat inspirasi suci dari Ruhul  Kudus
dan  meriwayatkan  tulisantulisan  yang merupakan dasar
kepercayaan  Kristen,   yakni   Injil,   dengan   empat
bentuknya yaitu Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas
dan Injil Yahya." "Ibu Suci (Gereja)  selalu  berpegang
dengan   kuat  bahwa  empat  Injil  yang  diberi  sifat
bersejarah  telah  menyampaikan  dengan  penuh   amanat
segala  apa  yang  diperbuat  dan diajarkan oleh Yesus,
putra Tuhan, selama ia hidup di antara  manusia  sampai
ia  diangkat  ke  langit.  Para pengarang suci kemudian
menyusun Injil empat yang memberikan kepada kita segala
yang benar dan jujur mengenai Yesus."

Kata-kata  yang  kita kutip daripada Konsili Vatikan II
itu menunjukkan secara tegas  kepercayaan  bahwa  Injil
telah  meriwayatkan perbuatan dan perkataan Yesus. Akan
tetapi kita merasakan ketidakserasian antara pernyataan
Konsili  tersebut dengan pernyataan pengarang-pengarang
yang kita sebutkan sebelumnya, khususnya kata kata R.P.
Kannengiesser:  "Kita  tidak boleh memahami Injil-lnjil
secara  harafiah,  oleh  karena  Injil  itu   merupakan
tulisan-tulisan  daripada keadaan-keadaan tertentu atau
tulisan-tulisan  perjuangan   yang   penulis-penulisnya
memelihara  tradisi  masyarakat  mereka  mengenai Yesus
dengan tulisan."

"Injil-Injil adalah teks-teks  yang  menyesuaikan  diri
dengan      bermacam-macam     lingkungan,     memenuhi
kebutuhan-kebutuhan Gereja, melontarkan pikiran-pikiran
mengenai  Kitab  suci,  membetulkan kesalahan-kesalahan
dan  menjawab   argumentasi   lawan.   Dengan   begitu,
Injil-injil mengumpulkan dan menuliskan apa yang mereka
terima dari tradisi lisan, menurut  pandangan-pandangan
pribadi mereka." (Terjemahan Ekumenik dari Injil).

Nyata sekali hahwa antara deklarasi Konsili Vatikan dan
sikap-sikap yang lebih baru terdapat kontradiksi. Tidak
mungkin  untuk  menyesuaikan  deklarasi Vatikan II yang
mengatakan bahwa dalam Injil,  kita  menemukan  riwayat
yang  jujur  tentang  perbuatan  dan  perkataan  Yesus,
dengan  adanya  kontradiksi,  kekeliruan,  kemustahilan
material   dan  pemberitaan  yang  bertentangan  dengan
realitas ilmiah yang sudah pasti.

Sebaliknya, jika kita memandang Injil sebagai  ekspresi
dari pandangan-pandlangan pribadi dari orang-orang yang
mengumpulkan tradisi-tradisi lisan yang terdapat  dalam
bermacam-macam  kelompok,  kita tidak merasa heran jika
kita     menemukan      dalam      Injil-Injil      itu
keterangan-keterangan     yang     menunjukkan    bahwa
Injil-lnjil tersebut  ditulis  oleh  orang-orang  dalam
suasana  yang  telah kita terangkan di atas. Mereka itu
dapat saja  merupakan  orang-orang  yang  sangat  jujur
walaupun  mereka  itu  meriwayatkan hal-hal yang memuat
kontradiksi  dengan  pengarang-pengarang  lain   karena
mereka   sendiri   tak   pernah   merasa   curiga  akan
kebenarannya, atau mungkin sekali karena ada persaingan
keagamaan  antara  dua  kelompok, mereka itu menyajikan
riwayat kehidupan Yesus menurut kaca mata  yang  sangat
berlainan dengan kaca mata lawannya.

Kita  telah membaca bahwa konteks sejarah adalah sesuai
dengan   cara   memandang   Injil   seperti   tersebut.
Bahan-bahan  untuk  menyelidiki  Injil yang kita miliki
semua menguatkan pandangan semacam itu.


 --------------------------------------------------------------------------------
BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
Dr. Maurice Bucaille

Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi
Penerbit Bulan Bintang, 1979
Kramat Kwitang I/8 Jakarta

9 Injil Sinoptik adalah Injil-Injil karangan Markus,
    Matius dan Lukas. dinamakan Sinoptik karena hampir sama
    dalam pandangannya.

Mengingat Kembali Sejarah Perjanjian Baru

AGAMA YAHUDI KRISTEN (JUDEO-CHRISTIANISME) DAN PAULUS

Kebanyakan umat Kristen mengira bahwa  Injil-Injil  itu
ditulis   oleh   saksi-saksi   mata   yang  menyaksikan
kehidupan Yesus  secara  langsung,  dan  dengan  begitu
mereka   itu   merupakan  saksi-saksi  yang  tak  dapat
disangsikan  lagi   mengenai   kejadian-kejadian   yang
memenuhi  kehidupannya dan dakwahnya. Dengan menghadapi
jaminan-jaminan tentang kebenaran Injil, dapatkah orang
mempersoalkan  ajaran-ajaran  yang  dapat  diambil dari
Injil  tersebut?  Dapatkah  orang   ragu-ragu   tentang
kebenaran  kelembagaan  Gereja  yang  didirikan menurut
petunjuk-petunjuk  umum  yang  diberikan   oleh   Yesus
sendiri?    Cetakan-cetakan    Injil    sekarang   yang
diperuntukkan bagi orang awam memuat  komentar-komentar
yang   dimaksudkan   untuk   menyebarluaskan  idea-idea
tersebut diantara mereka.

Kepada pengikut-pengikut agama yang setia,  ditonjolkan
aksioma  bahwa  para pengarang Injil adalah saksi-saksi
mata. Bukankah Yustin pada  abad  II  mengatakan  bahwa
Injil-Injil  itu  adalah  memoir (catatan-catatan) para
Rasul (sahabat-sahabat Nabi  Isa).  Kemudian  diberikan
pula keterangan yang terperinci mengenai para pengarang
Injil  sehingga  orang  tidak   ragu-ragu   lagi   akan
kebenarannya.  Umpamanya:  Matius  adalah  seorang yang
sangat terkenal "pegawai bea Cukai  di  Kafrna'um,  "Ia
faham   bahasa   Aramaik   dan  bahasa  Yunani.  Markus
disebutkan sebagai teman  Petrus;  sudah  terang  bahwa
Markus  bukan  saksi  mata  yang melihat Yesus sendiri.
Lukas adalah seorang tabib, sehingga Paulus  mengatakan
bahwa   keterangan-keterangan  tentang  Lukas  tersebut
sangat tepat. Yahya adalah rasul (sahabat) yang  selalu
dekat  dengan  Yesus, anak dari Zebede, seorang nelayan
di danau Genesareth.

Penyelidikan-penyelidikan  modern   tentang   permulaan
agama   Kristen  menunjukkan  bahwa  penyajian  seperti
tersebut di atas tidak sesuai  dengan  kenyataan.  Kita
nanti  akan  mengetahui siapa pengarang-pengarang Injil
itu. Mengenai  periode  beberapa  puluh  tahun  setelah
Yesus  tak ada lagi, kita harus tahu bahwa yang terjadi
tidak seperti apa yang dikatakan, dan  bahwa  kunjungan
Petrus   ke   Roma  tidak  mendirikan  Gereja  Katolik.
Sebaliknya antara waktu  Yesus  meninggalkan  bumi  ini
sampai  pertengahan  abad  II,  yakni selama lebih dari
satu abad telah terjadi perjuangan  antara  dua  aliran
yakni   agama   Kristen   menurut   Paulus   dan  agama
Yahudi-Kristen;  dengan   pelan-pelan   aliran   Paulus
mendesak aliran asli yakni agama Yahudi-Kristen.

Banyak  karangan-karangan  yang  muncul  pada  beberapa
dasawarsa  yang  akhir   ini   dan   yang   berdasarkan
penemuan-penemuan  yang  terungkap di zaman kita, telah
memungkinkan kita memahami pikiran-pikiran modern  yang
disajikan   oleh   Kardinal   Danielou.   Artikel  yang
diterbitkan pada bulan-  Desember  1967  dalam  majalah
Etude  (penyelidikan)  berjudul:  Suatu  pandangan baru
tentang asal agama  Kristen  atau  Yudeo-Christianisme.
Dengan  mengutip  karangan-karangan  yang terdahulu, ia
menjelajahi  sejarah  dan   memungkinkan   kita   untuk
menempatkan  Injil  dalam  konteks  yang sangat berbeda
dengan apa yang dapat  kita  baca  dalam  uraian-uraian
yang  ditulis  untuk  kaum  awam.  Di  bawah  ini  kita
cantumkan ringkasan pikiran-pikiran pokok dalam artikel
tersebut, dengan kutipan-kutipan:

Sesudah Yesus, tidak ada lagi kelompok kecil para rasul
(sahabat) yang merupakan suatu "sekte Yahudi yang setia
kepada ibadat dan upacara temple." Tetapi ketika banyak
orang-orang baru yang masuk agama  Kristen  dari  agama
Kafir  (Pagan), mereka mengusulkan suatu aturan Khusus;
konsili Yerusalem tahun 49 M  membebaskan  mereka  dari
khitan  dan upacara-upacara Yahudi. Banyak orang-orang,
Yahudi-Kristen  yang  tidak  setuju  dengan   perlakuan
khusus  ini.  Kelompok  ini memisahkan diri dan Paulus.
Malahan  telah  terjadi  bentrokan  antara  Paulus  dan
kelompok  Yahudi  Kristen  pada  tahun 49 M itu juga di
Antioch. Bagi Paulus, khitan, liburan  hari  Sabtu  dan
upacara di temple tidak perlu lagi, baik untuk pengikut
Yesus atau untuk orang Yahudi  sendiri.  Agama  Kristen
harus  membebaskan diri dari hubungan politico religius
dengan agama Yahudi, dan membuka diri bagi orang gentil
(yang bukan Yahudi).

Dalam  pandangan orang Yahudi Kristen yang tetap setia,
kepada  ajaran  Yahudi,  Paulus   adalah   orang   yang
berkhianat.  Dokumen-dokumen  mereka  mengatakan  bahwa
Paulus adalah musuh dan mendakwanya dengan  taktik  dua
muka;  tetapi  sampai  tahun  70 M Yudeo--Christianisme
merupakan  "mayoritas   dalam   gereja"   dan   "Paulus
merupakan   orang   yang   terasing."   Ketua  daripada
masyarakat Yudeo-Christian adalah Jack, seorang kerabat
Yesus.  Jack  didampingi  Petrus  dan Yahya. Jack dapat
dianggap  sebagai  tiangnya  Yudeo-Christianisme,  yang
sengaja  setia  kepada  agama  Yahudi  menentang  agama
Kristen yang dipimpin Paulus. Keluarga  Yesus  memegang
peranan  dalam  gereja  Yudeo-Christian  di  Yerusalem.
Pengganti Jack  adalah  Simon,  anak  Cleopas,  saudara
sepupu Yesus.

Kardinal   Danielou   mengutip   tulisan-tulisan  Yudeo
Christian yang mengungkapkan pandangan  kelompok  Yudeo
Christian  yang  terbentuk sekitar para rasul (sahabat)
terhadap  Yesus:  Injil  orang-orang  Ibrani  (mengenai
masyarakat  Yahudi Kristen di Mesir), Hypotesa karangan
Clement,  rasa  syukur   Clement   (Reconnaissance   de
Clement), Apocalypse Jack dan Injil Thomas.8

Orang-orang   Yahudi   Kristen   itulah   yang  menulis
dokumen-dokumen Kristen  kuno  yang  disebutkan  secara
terperinci olel Kardinal Danielou.

"Pada  abad  I  M,  agama Yahudi Kristen tidak hanya di
Yerusalem dan Palestina, akan tetapi  di  tempat-tempat
lain juga, yakni sebelum aliran Paulus tersiar. Hal ini
memberi penerangan mengapa  surat-surat  Paulus  selalu
menyebutkan adanya konflik," memang di mana-mana Paulus
mendapat rintangan yang  sama,  di  Galitea,  Korintus,
Kolose, Roma dan Antioch.

Di  tanah  pesisir  Siria  Palestina,  dari Gaza sampai
Antioch, orang-orang  menganut  agama  Yahudi  Kristen,
seperti  yang  diterangkan  oleh surat-surat para rasul
dan tulisan-tulisan Clement."

Di Asia kecil  adanya  pengikut-pengikut  agama  Yahudi
Kristen telah dibuktikan oleh surat untuk orang Galitia
dan surat untuk orang  Kolose,  keduanya  dikirim  oleh
Paulus. Tulisan-tulisan Papias memberi gambaran tentang
agama Yahudi Kristen  di  Phrygie.  Di  negeri  Yunani,
khususnya   di   Apollos,  surat  Paulus  kepada  orang
Korintus menunjukkan tersiarnya agama  Yahudi  Kristen.
Roma  merupakan  suatu  pusat  penting,  menurut  surat
Clement  dan  Pendeta  dari  Hernias.  Di  Suetone  dan
Tacite,  orang-orang  Kristen  merupakan  sekte Yahudi.
Kardinal Danielou berpendapat bahwa agama Kristen  yang
masuk  Afrika,  mula-mula  adalah agama Yahudi Kristen.
Ini   dikuatkan   oleh   Injil   orang    Ibrani    dan
tulisan-tulisan Clement dari Alexandria.

Adalah  sangat  penting  untuk  mengetahui  fakta-fakta
tersebut agar kita dapat memahami bahwa Injil-lnjil itu
ditulis  pada  suasana  perjuangan antara dua kelompok.
Penyebaran teks  yang  kita  punyai  sekarang,  setelah
diadakannya  perubahan-perubahan  dalam teks sumbernya,
dimulai sekitar  tahun  70  M,  yaitu  waktu  bentrokan
antara  kedua  kelompok yang bersaingan. Pada waktu itu
kelompok Yahudi Kristen  lebih  banyak.  Tetapi  dengan
terjadinya  Perang Yahudi (melawan Kerajaan Romawi) dan
jatuhnya  Yerusalem  pada  tahun  70,  keadaan  menjadi
terbalik.

Kardinal  Danielou  menerangkan  kemunduran ini sebagai
berikut:

"Karena orang-orang  Yahudi  tidak  dipercaya  lagi  di
dalam   Kerajaan   Romawi,   maka  orang-orang  Kristen
menjauhkan diri dari mereka. Agama Kristen seperti yang
tersiar  di  negeri  Yunani  mendapat  kemajuan. Paulus
mendapat kemenangan  sesudah  ia  sendiri  mati.  Agama
Kristen  memisahkan  diri dari agama Yahudi baik secara
sosiologik maupun secara politik, dan menjadi  kelompok
ketiga,  yakni  di  samping  Yahudi  dan  Kafir. Tetapi
meskipun  begitu  sampai  pemberontakan   Yahudi   yang
terjadi  pada  tahun  140,  agamaYahudi  Kristen  masih
dominan secara kebudayaan."

Dari tahun 70 sampai  kira-kira  tahun  110,  timbullah
empat  Injil,  yakni  yang ditulis oleh Markus, Matius,
Lukas dan Yahya.  Injil  itu  tidak  merupakan  dokumen
Kristen  yang pertama; sebelumnya telah ada surat-surat
Paulus. Menurut O. Culmann, Paulus menulis surat kepada
orang  Tesalonika  pada  tahun 50. Tetapi sudah terang,
Paulus meninggal beberapa tahun  sebelum  Injil  Markus
selesai ditulis.

Paulus  adalah  seorang  yang  banyak  dipersoalkan dan
dianggap pengkhianat kepada ajaran Yesus oleh  keluarga
Yesus  sendiri,  dan  oleh rasul-rasul (sahabat-sahabat
Nabi Isa) yang tinggal di Yerusalem dengan Jack. Paulus
dianggap  telah menyiarkan ajaran-ajarannya sendiri dan
merugikan para sahabat-sahabat  yang  dikumpulkan  oleh
Yesus  sendiri  untuk menyiarkan ajaran-ajarannya. Oleh
karena Paulus tidak pernah bertemu dengan  Yesus,  maka
ia  memberi  dasar untuk perbuatannya dengan mengatakan
bahwa Yesus yang telah hidup kembali setelah di  kubur,
nampak  kepadanya  di  jalan  ke  Damascus.  Kita dapat
bertanya-tanya bagaimana yang  mestinya  terjadi  dalam
agama Kristen seandainya Paulus tidak muncul; tentu ada
bermacam-macam hypotesa. Akan tetapi,  dalam  hal  yang
mengenai  Injil-Injil, kita dapat mengatakan bahwa jika
suasana bentrokan antara dua kelompok  yang  disebabkan
oleh  ajaran  Paulus  yang  menyeleweng  itu tiada ada,
tentunya kita tidak akan menemukan Injil-lnjil  seperti
yang   ada   sekarang.   Karena   ditulis   pada  waktu
pertentangan antara dua kelompok, maka  tulisan-tulisan
perjuangan  (ecrits  de  Combat) seperti yang dinamakan
oleh   R.P.   Kannengiesser,    telah    muncul    dari
tulisan-tulisan  mengenai  Yesus  ketika  agama Kristen
menurut ajaran Paulus telah menang dan sedang  menyusun
kumpulan  teks-teks  resmi  atau Canon, yaitu teks yang
menghukum segala teks lain  yang  tidak  sesuai  dengan
garis  yang  dipilih  oleh  Gereja  serta menganggapnya
sebagai bertentangan dengan ortodoksi.

Setelah  pengikut  agama  Yahudi  Kristen  tidak   lagi
rnerupakan   kelompok   yang  berpengaruh,  mereka  itu
biasanya dinamakan "Yudaisants" yakni orang-orang  yang
condong kepada agama Yahudi. Kardinal Danielou menulis:

"Orang-orang  Yudeo  Kristen terputus dari Gereja Besar
yang membebaskan diri dari pengaruh Yahudi, dan  mereka
itu  musnah  dengan  cepat di Barat. Akan tetapi mereka
masih terdapat di Timur pada abad III dan IV, khususnya
di  Palestina,  Arabia, Yordania, Syria dan Mesopotamia
(Irak). Di antara  mereka  banyak  yang  memeluk  agama
Islam, yang memang merekalah pewaris agama Kristen dari
suatu segi, lainnya mengikuti  ortodoksi  Gereja  Besar
dengan  mempertahankan  kebudayaan Semit;" seperti yang
masih terdapat di Ethiopia dan Babylon.


 --------------------------------------------------------------------------------
BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
Dr. Maurice Bucaille

Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi
Penerbit Bulan Bintang, 1979
Kramat Kwitang I/8 Jakarta

8 Buku-buku tersebut di atas kemudian diputuskan
    sebagai apokrif artinya buku yang harus disembunyikan
    oleh Gereja yang kemudian menang dengan pimpinan
    Paulus.

Pengantar Kepada Perjanjian Baru

Banyak  pembaca  Injil  yang  merasa   bingung   bahkan
ragu-ragu  jika mereka memikirkan arti beberapa hikayat
atau mengadakan perbandingan  antara  versi-versi  yang
bermacam-macam mengenai suatu kejadian yang diceritakan
dalam  beberapa  Injil.  Hal  tersebut   adalah   suatu
konstatasi  yang  diberikan  oleh  R.P.  Rouguet  dalam
bukunya:  Pembimbing   kepada   Injil   (Initiation   a
l'Evangile)  cetakan  Seuil  1973. Dengan pengalamannya
selama beberapa tahun sebagai redaktur  suatu  mingguan
Katolik  yang ditugaskan untuk menjawab pembaca-pembaca
yang mendapatkan kesulitan memahami  teks  Injil,  R.P.
Rouguet  dapat  mengukur  pentingnya  kebingungan  para
pembaca. Ia merasakan bahwa permintaan penjelasan  dari
para  pembaca  yang  datang dari lapisan masyarakat dan
kebudayaan orang bermacam-macam  adalah  mengenai  teks
yang   kabur,   yang   tak   dapat   dimengerti,   yang
kontradiksi, absurd dan memalukan. Tidak ada syak  lagi
bahwa membaca teks Injil seluruhnya dapat membingungkan
umat Kristen.
Pengamatan semacam ini adalah baru; buku  R.P.  Rouguet
diterbitkan  pada tahun 1973. Pada masa-masa yang belum
terlalu lama, kebanyakan orang Kristen hanya mengetahui
ayat-ayat yang dipilih oleh pendeta, dibacakan di waktu
sembahyang atau ceramah agama. Di luar kaum  Protestan,
jarang  sekali  orang  membaca  seluruh  Injil, di luar
kesempatan-kesempatan tersebut.
Buku-buku pelajaran agama hanya memuat kutipan-kutipan.
Tak  ada  teks  lengkap  yang  beredar. Pada waktu saya
menjadi siswa sekolah  menengah  katolik,  saya  selalu
memiliki  buku-buku  karangan Virgile dan Plato, tetapi
tidak memiliki Perjanjian Baru, pada  hal  teks  Yunani
Perjanjian   Baru   sangat  berfaedah.  Baru  kemudian,
setelah terlambat, saya baru tahu  mengapa  kami  tidak
disuruh  menterjemahkan  kitab  suci Kristen. Pokoknya,
terjemahan kitab  itu  akan  mendorong  kami  memajukan
pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk dijawab.
Hal-hal  yang  dipertanyakan  oleh  pikiran yang kritis
setelah membaca Injil secara menyeluruh telah mendorong
Gereja  untuk  campur  tangan dan membantu para pembaca
mengatasi  kesulitan  mereka.  R.P.  Rouguet   berkata:
"Banyak  orang  Kristen yang memerlukan belajar membaca
Injil," mungkin orang setuju atau tidak setuju terhadap
kata-kata  tersebut,  akan  tetapi  jasa  seorang  yang
menghadapi   problema-problema    yang    rumit    amat
diperlukan.  Sangat disayangkan bahwa kita tidak selalu
menjumpai sikap semacam itu  dalam  buku-buku  mengenai
Wahyu Kristen yang banyak jumlahnya.
Dalam  edisi-edisi  Bibel  yang  disediakan untuk awam,
biasanya  terdapat  kata  pengantar   yang   menyajikan
beberapa  uraian  dengan  tujuan  untuk meyakinkan para
pembaca  bahwa  Injil   tidak   menimbulkan   persoalan
mengenai   personnya,  penulis-penulis  fasal-fasalnya,
keaslian teksnya dan kebenaran isinya,  padahal  banyak
pengarang-pengarang  yang tak terkenal, dan banyak pula
keterangan yang memberi kesan benar dan  pasti  padahal
hanya      merupakan      hipotesa;      di      antara
keterangan-keterangan  tersebut  ada  yang   mengatakan
bahwa     pengarang    Injil    tertentu    menyaksikan
kejadian-kejadian    yang    diriwayatkannya    padahal
buku-buku  para  ahli  mengatakan sebaliknya. Perbedaan
waktu  antara  hidupnya  Nabi  Isa   dengan   timbulnya
Injil-Injil  dilukiskan sangat singkat. Ada usaha untuk
meyakinkan orang banyak, bahwa hanya  ada  satu  naskah
semenjak  tradisi  lisan,  padahal  perubahan-perubahan
teks telah dibuktikan oleh para ahli. Memang  ada  yang
membicarakan  kesulitan  penafsiran,  tetapi  orang itu
tergelincir    dalam    kontradiksi-kontradiksi    yang
menyolok. Dalam kamus kecil yang disusun di akhir edisi
Bibel tersebut,  yaitu  kamus  yang  dimaksudkan  untuk
menambah  kata-kata  pendahuluan  yang meyakinkan tadi,
sering  terdapat  bahwa  kekeliruan,  kontradiksi  atau
kesalahan-kesalahan yang besar dihilangkan atau ditutup
dengan alasan apologetik yang  lihai.  Keadaan  semacam
itu  adalah  menyedihkan  karena menunjukkan sifat yang
menyesatkan.
Hal-hal yang saya sebutkan di atas  tentu  mengherankan
para  pembaca  yang  belum  pernah  memikirkan  hal-hal
tersebut. Oleh karena itu sebelum memasuki  pembicaraan
yang  lebih  dalam,  saya  ingin menyajikan contoh yang
menyolok.
Matius dan Yahya tidak pernah membicarakan kenaikan  Al
Masih  ke  langit.  Lukas menempatkan kejadian itu pada
hari Yesus dihidupkan  kembali.  Hal  ini  ia  sebutkan
dalam  Injilnya,  padahal  dalam fasal: "Perbuatan Para
Rasul" yang ia sendiri  menulisnya,  kejadian  tersebut
ditempatkan  empat  puluh hari kemudian. Adapun Markus,
ia menyebutkannya dengan tidak pakai waktu, dalam  satu
paragraf  yang  sekarang  sudah dianggap tidak autentik
lagi. Dengan begitu maka kenaikan Al  Masih  ke  langit
tidak mempunyai dasar yang kokoh dalam Perjanjian Baru.
Walaupun begitu para ahli tafsir  menganggap  soal  ini
sangat enteng.
A.   Tricot,   dalam   bukunya:   Kamus  Kecil  Tentang
Perjanjian  Baru   (Petit   Dictionnaire   du   Nouveau
Testament)  dari  Bibel  Crampon, yaitu suatu buku yang
tersebar luas (terbit tahun 1960) tidak memuat  artikel
Ascension  (kenaikan  Al  Masih). Synopse des Evangiles
(Ringkasan  Injil-Injil)  karangan  R.  P.  Benoit  dan
Boismard,   gurubesar-gurubesar  di  sekolah  Bibel  di
Yerusalem  (cetakan  1972)  mengatakan  pada  jilid  11
halaman  451  dan  452  bahwa  kontradiksi antara Lukas
dalam Injilnya dan Lukas  dalam  fasal  Perbuatan  Para
Rasul  dapat  diterangkan  dengan "artifice Litteraire"
(penipuan sastra). Apakah artinya ini?
Nampaknya R.P. Rouguet dalam:  Pengantar  kepada  Injil
(Initiation  a Evangile) cetakan 1973 halaman 187 tidak
tertarik dengan (penipuan sastra) tersebut. Akan tetapi
penjelasan  yang  ia  kemukakan  adalah  aneh,  seperti
berikut: "Di sini, seperti dalam  beberapa  kasus  yang
sama,   persoalannya  dapat  dipecahkan,  kecuali  jika
seseorang memahami isi kitab suci secara  harafiah  dan
melupakan  arti  keagamaannya.  Di  sini  soalnya bukan
untuk  memecahkan  fakta-fakta  dalam  simbolisme  yang
tidak   konsisten   tetapi   untuk  menyelidiki  maksud
teologik     dari     mereka     yang     mengungkapkan
rahasia-rahasia,  dengan  memberikan  kepada kita fakta
yang dapat diterima pancaindera dan alamat-alamat  yang
sesuai   dengan   kecenderungan-kecenderungan  badaniah
daripada jiwa kita."
Bagaimana  kita  dapat  merasa  puas  dengan   tafsiran
semacam itu? Cara-cara apologi seperti itu hanya sesuai
dengan orang-orang yang bersifat dogmatis!
Tetapi  pernyataan  R.P.  Rouguet  penting  karena   ia
mengatakan bahwa dalam Injil terdapat hal-hal yang sama
dengan persoalan kenaikan  Nabi  Isa  ke  langit.  Oleh
karena itu kita perlu membicarakan persoalan ini secara
menyeluruh, mendalam  dan  obyektif.  Adalah  bijaksana
jika  kita  mencari penjelasan dalam pembahasan tentang
kondisi  waktu  Injil-Injil  itu  ditulis  dan  suasana
keagamaan      pada     waktu     itu.     Pengungkapan
perubahan-perubahan redaksi asli  semenjak  menjelmanya
dari  tradisi  lisan,  perubahan-perubahan  teks selama
dialihkan dari generasi ke generasi  sampai  hari  ini,
telah  menjadikan  kita tidak terlalu terperanjat dalam
menghadapi  bagian-bagian   yang   kabur   yang   tidak
dimengerti,  yang  keliru,  yang menjurus untuk menjadi
absurd atau tidak sesuai dengan realitas-realitas  yang
telah   dibuktikan   oleh  kemajuan  ilmu  pengetahuan.
Kenyataan-kenyataan semacam itu menunjukkan partisipasi
manusia  dalam  menyusun  Injil  dan  menunjukkan  pula
perubahan-perubahan teks yang terjadi kemudian.
Semenjak   beberapa   puluh    tahun    telah    timbul
kecenderungan   untuk   mempelajari   kitab-kitab  suci
-dengan jiwa penyelidikan yang  obyektif.  Dalam  suatu
karangan  baru  yang  berjudul "Foi en la Resurrection,
Resurrection de la foi" (Kepercayaan bahwa Yesus  hidup
kembali,  Kehidupan  kembali  dari  kepercayaan). R. P.
Kannengiesser, Guru  Besar  pada  Institut  Katolik  di
Paris   memberikan   gambaran  tentang  perubahan  yang
mendalam ini sebagai berikut: "Orang-orang yang percaya
hampir  tidak  mengetahui  bahwa  suatu  revolusi dalam
metode penafsiran Bibel telah terjadi semenjak  periode
Paus  Pius  XII  (1939-1958). Revolusi yang dibicarakan
itu  memang  baru.  Revolusi  tersebut  dimulai  dengan
memperpanjang waktu pendidikan-pendidikan pemeluk agama
Kristen, sedikitnya mengenai bahan-bahan yang diajarkan
oleh  ahli-ahli  Injil  yang memiliki jiwa pembaharuan.
Suatu pembalikan terhadap perspektif yang telah  sangat
mantap  tentang  tradisi  para  pendeta, telah berjalan
sedikit atau banyak dengan  timbulnya  revolusi  metode
menafsirkan ini."
R.P. Kannengiesser memperingatkan kita "Jangan memahami
secara harafiah" segala hal yang diceritakan oleh Injil
tentang  Yesus,  karena  "Injil  itu adalah fasal-fasal
yang  ditulis  pada  keadaan-keadaan  tertentu'?   atau
merupakan       "fasal-fasal      perjuangan"      yang
pengarang-pengarangnya   bermaksud   untuk   memelihara
dengan   tulisan  segala  dongengan  masyarakat  mereka
tentang Yesus. Mengenai  dihidupkannya  Yesus  kembali,
yaitu   hal   yang   dibicarakan   dalam   bukunya,  ia
menandaskan bahwa tak ada pengarang  Injil  yang  dapat
mengatakan dirinya sebagai saksi mata.
Hal  ini  berarti  bahwa, mengenai masa kenabian Yesus,
keadaannya juga begitu, yakni tak ada  pengarang  Injil
yang  menjadi  saksi  mata, oleh karena tak ada seorang
rasul  (Hawari)  selain  Yudas,7  yang  berpisah   dari
gurunya   (yakni   dari  Yesus)  dari  semenjak  mereka
mengikutinya sampai  akhir  penjelmaannya  diatas  bumi
(Padahal para penulis Injil bukan Hawari).
Dengan  begitu,  maka  kita  sudah menjadi terlalu jauh
dari  sikap  tradisional  yang  masih  dipegang  dengan
khusuknya  oleh  Konsili Vatikan II, baru sepuluh tahun
yang lalu; sikap tradisional tersebut juga masih  terus
nampak  dalam buku-buku modern yang ditulis untuk awam.
Tetapi sedikit demi sedikit kebenaran itu nampak juga.
Memang tidak mudah  untuk  menangkap  kebenaran  selama
tradisi   yang  sudah  turun  temurun  lama  itu  tetap
dipertahankan. Jika  seseorang  ingin  me}epaskan  diri
dari tradisi tersebut ia harus meneliti permasalahannya
dari    dasarnya,    artinya    ia    harus    meneliti
keadaan-keadaan yang meliputi lahirnya agama Kristen.

 --------------------------------------------------------------------------------
BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
Dr. Maurice Bucaille
Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi
Penerbit Bulan Bintang, 1979
Kramat Kwitang I/8 Jakarta
7   Yudas atau Yudas Eskariot adalah seorang sahabat
    Nabi Isa yang mengkhianatinya dengan melaporkan tempat
    Nabi Isa berada kepada tentara pendudukan Romawi di
    Palestina.